WELLCOME TO MY BLOG

Senin, 21 Maret 2011

SEVERE ACUTE RESPIRATORY SYNDROME (SARS)

Definisi
SARS adalah sindrom pernapasan akut berat yang merupakan penyakit infeksi pada jaringan paru manusia yang penyebabnya adalah Coronavirus (suatu “single-stranded enveloped RNA virus”).
SARS diduga berasal dari Propinsi Guangdong di Cina daratan, muncul dan menyerang manusia sekitar bulan November 2002. Pada bulan Juli 2003 Kejadian Luar Biasa (KLB) terjadi di 6 wilayah yaitu : Kanada, Cina daratan (yang berasal dari Guangdong kemudian menyebar ke beberapa kota besar, Taiwan dan Hongkong), Singapura dan Vietnam. Setelah itu SARS diketahui menyebar ke lebih dari 20 tempat lain di dunia mengikuti rute penerbangan. Sejak pertamakali dilaporkan sampai tanggal 2 Juli 2003, WHO telah mencatat 8442 kasus di 30 negara dengan kematian pada 812 kasus (WHO 2003e).

Penyebab
SARS disebabkan oleh coronavirus yang pada pemeriksaan dengan mikroskop elektron sama dengan coronavirus pada binatang. Virus ini stabil pada tinja dan urine pada suhu kamar selama 1 – 2 hari dan dapat bertahan lebih dari 4 hari pada penderita diare.

Virus SARS kehilangan infektivitasnya terhadap berbagai disinfektan dan bahan-bahan fiksasi. Pada pemanasan dengan suhu 540C (132.80F) akan membunuh coronavirus SARS dengan kecepatan sekitar 10.000 unit per 15 menit. Virus dapat masuk ke dalam tubuh melalui dinding saluran pernafasan,mukosa mulut dan selaput retina mata.Virus ini menyerang saluran pernafasan manusia dan binatang berdarah panas.




Distribusi penyakit
:
KLB SARS yang cukup besar terjadi antara bulan November 2002 sampai dengan bulan Juli 2003 di Kanada, Cina (termasuk Hongkong dan Taiwan), Singapura dan Vietnam.

Pada saat itu virus diketahui menyebar ke lebih dari 20 lokasi didunia yaitu di beberapa tempat di Afrika, Amerika, Asia, Australia, Eropa, Timur tengah dan daerah Pasifik. Pada tanggal 5 Juli 2003, WHO melaporkan bahwa tidak ditemukan lagi penularan dari orang ke orang diseluruh wilayah KLB SARS, namun WHO menyarankan agar kegiatan surveilans yang intensif harus dilanjutkan. Dengan kegiatan surveilans yang tetap intensif akan diketahui apakah SARS menjadi endemis disuatu wilayah ataukah tidak, apabila SARS muncul kembali didaerah tersebut akan dengan mudah dan cepat diketahui.

Pada bulan September 2003, di Singapura ditemukan petugas laboratorium positif SARS dengan pemeriksaan PCR. Tiga bulan kemudian kejadian yang sama menimpa petugas laboratorium di Tiapeh (Cina Taiwan). Pada kedua kejadian diatas tidak terjadi penularan yang menimbulkan penderita sekunder.
Kejadian ketiga terjadi di Beijing pada bulan April 2004 menimpa dua orang petugas laboratorium. Seorang petugas laboratorium tersebut sempat menularkan kepada anggota keluarganya dan petugas kesehatan lain sehingga menimbulkan KLB kecil generasi ketiga. Namun KLB ini dapat diatasi oleh otoritas kesehatan Cina.

Gejala
Gejalanya dapat terlihat dalam waktu relatif pendek dengan masa inkubasi 2-7 hari. SARS pada awalnya mungkin disangka Flu biasa, namun sesudah beberapa hari akan memberat dengan tanda-tanda demam (di atas 38ยบ C) , batuk tanpa dahak, suara parau, napas pendek, kesulitan bernafas, nyeri dada, nyeri kepala dan memiliki riwayat dalam 7-10 hari bepergian ke daerah endemik (China, Hongkong, Singapura, Vietnam dan Canada) atau kontak dengan penderita SARS.
Pada pemeriksaan darah ditemukan trombositopenia dan leukopenia di samping pemeriksaan rontgen positif pneumonia.

Epidemiologi
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara kumulatif kasus SARS adalah 2.781 kasus dengan 111 kematian, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat ( CDC) kini melaporkan total terjadi 51 kasus. Angka ini naik dari semula hanya 45 kasus di 21 negara bagian pada tanggal 26 Maret.
Sebagian besar kasus SARS hingga saat ini telah terjadi pada orang dewasa muda. Pola transmisi sebagian besar mencerminkan usia petugas kesehatan, anggota keluarga dan kontak sosial, dan wisatawan internasional..

SARS tampaknya paling sering disebarkan melalui kontak orang-ke-orang dekat yang melibatkan paparan tetesan menular, dan mungkin melalui kontak langsung dengan cairan tubuh yang terinfeksi.
Cina terus untuk melihat kasus baru SARS meskipun jumlahnya menurun setelah puncak kasus pada bulan Februari. Sampai saat ini, 1.290 kasus dan 55 kematian telah dilaporkan dari Cina daratan.
Hong Kong sedang mengalami wabah SARS terbesar kedua dengan 998 kasus dan 30 kematian. Sebuah wabah signifikan pada blok apartemen Amoy Gardens antara 27 Maret-1 April menghasilkan puncaknya.
Kanada telah mengalami wabah SARS kemungkinan 97 kasus dan 10 kematian. Semua kasus telah dikaitkan antara epidemiologi dengan transmisi terkait dengan pelayanan kesehatan dan transmisi antara kontak dekat dari kasus SARS. Dalam wabah Kanada, rasio fatalitas kasus yang lebih tinggi tampaknya terkait dengan usia yang lebih tua dari pasien, yang sering memiliki penyakit kronis yang mendasari.

Etiologi  
Sindrom pernafasan akut parah (SARS) adalah infeksi virus yang serius berpotensi mengancam nyawa disebabkan oleh virus yang sebelumnya dikenal dari keluarga Coronavirus. Coronavirus merupakan penyebab penyakit flu pada umumnya. Tiga belaslaboratorium di 10 negara telah beke rja samauntuk menemukandan mengidentifikasi virus penyebab SARS. Pada awalnya,paramiksovirus dihubungkan dengan SARS karena telah ditemukan pada beberapa kasus. Dalam usaha untuk segera

menanggulangi dan mencegah penyebaran SARS lebih luas, kerja sama antarlaboratorium antarnegara tersebut dalam waktu yang relatif singkat telab berbasil menyediakan sejumlab uji laboratorium untuk mengenali virus barn yang berasal dari keluarga coronavirus. Setelab pembuktian postulat Kocb pada monyet, secara resmi WHO mengumumkan bahwa virus corona sebagai penyebab SARS. Nama seperti Urbani-SARS associated coronavirus, Franhjiurt am Main index case (FFMic) coronavirus telah diusulkan untuk virus corona penyebab SARS dan WHO secara resmi menentukan nama penyebab SARS ialah virus SARS-CoV.

Cara penularan 
SARS ditularkan melalui kontak dekat, misalnya pada waktu merawat penderita, tinggal satu rumah dengan penderita atau kontak langsung dengan sekret/cairan tubuh dari penderita suspect atau probable. Diduga cara penyebaran utamanya adalah melalui percikan (droplets) dan kemungkinan juga melalui pakaian dan alat-alat yang terkontaminasi.

Dilain kesempatan virus diduga ditularkan melalui media lingkungan yaitu dari saluran limbah (comberan) yang tercemar bahan infeksius; dengan aerosolisasi mencemari udara atau secara mekanis dibawa oleh vector. Cara penularan melalui saluran limbah tercemar ini sedang diteliti secara retrospective.

Masa penularan
Masa penularan belum diketahui secara pasti. Dari penelitian awal yang pernah dilakukan tidak terjadi penularan sebelum muncul tanda dan gejala klinis, dan diduga masa penularan berlangsung kurang dari 21 hari. Petugas kesehatan yang kontak langsung dengan penderita mempunyai risiko paling tinggi tertular, lebih-lebih pada petugas yang melakukan tindakan pada sistem pernafasan seperti melakukan intubasi atau nebulasi.

Kerentanan
: siapa sajakah yang rentan terhadap infeksi virus SARS belum diketahui dengan jelas, namun semua orang diduga rentan tertulari. Nampaknya ras dan jenis kelamin tidak ada hubungannya dengan kerentanan. Oleh karena sedikit sekali penderita SARS pada anak yang dilaporkan

Cara – cara pencegahan 
 
1. Lakukan identifikasi segera terhadap semua penderita suspect dan probable sesuai dengan definisi kasus menurut WHO. Setiap orang sakit yang datang ke fasilitas kesehatan (RS, Puskesmas, Klinik di Bandara dan lain-lain) yang akan dinilai terhadap kemungkinan menderita SARS dimasukkan ke ruang triage dan disini segera dilakukan pemisahan untuk mengurangi risiko penularan. Untuk penderita yang masuk katagori probable segera dipasangi masker, sebaiknya masker yang dapat menyaring udara ekspirasi untuk mencegah percikan ludah keudara.

Petugas triage harus memakai masker penutup muka (face mask jenis N/R/P 95/99/100 atau FFP 2/3 atau sejenis dan memenuhi standar yang ditetapkan) yang dapat melindungi mata dari percikan. Petugas hendaknya selalu mencuci tangan dengan air mengalir sesuai dengan prosedur sebelum dan sesudah kontak dengan penderita, setelah melakukan kegiatan yang diduga dapat menyebabkan kontaminasi, dan setelah melepaskan sarung tangan.

Sarung tangan yang tercemar, stethoscope dan peralatan lain harus ditangani dengan benar, dicuci dengan disinfektan untuk mencegah penularan. Disinfektan seperti larutan bahan pemutih (fresh bleach solution) dalam konsentrasi yang cukup harus selalu tersedia. 
2. Lakukan tindakan isolasi terhadap kasus probable.
Setiap penderita probable harus segera diisolasi dan dirawat dengan cara dan fasilitas dengan urut-urutan preferensi sebagai berikut : diisolasi diruangan bertekanan negatif dengan pintu yang selalu ditutup, kamar tersendiri dengan kamar mandi sendiri, ditempatkan dalam ruangan kohort pada daerah dengan ventilasi udara tersendiri dan memiliki sistem pembuangan udara (exhaust system) serta kamar mandi sendiri. Apabila tidak tersedia sistem supply udara tersendiri, maka semua AC (mesin pendingin udara) dimatikan dan jendela dibuka untuk mendapakan ventilasi udara yang baik (catatan : jendela harus yang tidak mengarah ketempat umum).
Prosedur kewaspadaan universal untuk mencegah infeksi harus diterapkan dengan ketat sekali terhadap kemungkinan terjadinya penyebaran melalui udara, melalui percikan dan kontak langsung.
Seluruh staf medis dan tenaga pembantu harus dilatih tentang cara-cara pencegahan infeksi dan cara-cara penggunaan Personal Protective Equipment (PPE) alat-alat perlingdungan diri berikut ini :
• Pengunaan penutup muka/face mask untuk melingdungi penularan melalui saluran pernafasan. Jenis face mask yang dianjurkan adalah NRP 95/99/100 atau FFP 2/3 atau jenis yang sama sesuai dengan standar nasional negara yang bersangkutan.

• Penggunaan sepasang sarung tangan

• Penggunaan pelindung mata

• Penggunaan jas sekali pakai

• Penggunaan apron

• Alas kaki yang dapat didekontaminasi

Pada waktu merawat dan mengobati penderita SARS sedapat mungkin digunakan peralatan dan bahan-bahan sekali pakai (disposable) dan setelah dipakai bahan atau peralatan tersebut dibuang sebagaimana mestinya.

Apabila peralatan yang telah digunakan akan dipakai lagi, hendaknya disterilkan terlebih dahulu sesuai dengan petunjuk dari pabrik pembuatnya. Alat-alat tersebut hendaknya dibersihkan dengan disinfektan yang mempunyai efek antiviral.
Hindari pemindahan penderita SARS dari ruang isolasi ketempat lain. Kalau penderita SARS ini karena sesuatu dan lain hal harus dipindahkan ketempat lain penderita harus diberi cungkup muka (face mask).

Visite dibatasi seminimal mungkin dan petugas harus menggunakan pakaian pelindung (PPE = Personal Preventive Equipment) dengan supervisi yang ketat. Mencuci tangan mutlak harus dilakukan sebelum dan sesudah kontak dengan penderita, sesudah melakukan kegiatan yang memungkinkan terjadi kontaminasi, sesudah melepaskan sarung tangan. Oleh karena itu harus tersedia fasilitas air bersih yang mengalir dalam jumlah yang memadai. Untuk disinfeksi cukup digunakan alkohol apabila tidak ada riwayat kontak dengan bahan-bahan organik yang infeksius.

Perhatian khusus harus diberikan kepada petugas apabila melakukan tindakan-tindakan seperti pada pemberian fisioterapi thorax, pada tindakan bronkoskopi atau gastroskopi, nebulizer dan tindakan-tindakan lain pada saluran pernafasan serta tindakan yang menempatkan petugas kesehatan kontak sangat dekat dengan penderita dan dengan sekret infeksius, sehingga kemungkinan tertular sangat besar. Seluruh instrumen tajam harus ditangani dengan tepat dan ketat. Linen penderita harus dikemas ditempat oleh petugas, ditempatkan didalam kantong khusus (biohazard bags) sebelum dikirim ke laundry/binatu.

3) Pelacakan terhadap kontak (contact persons) : yang disebut kontak secara epidemiologis adalah mereka yang merawat dan atau tinggal dengan atau mereka yang kontak dengan sekret saluran nafas, cairan tubuh atau tinja penderita suspect atau probable SARS.

Pelacakan kontak harus dilakukan secara sistematis. Periode waktu seseorang dianggap sebagai kontak harus disepakati terlebih dahulu. Kesepakatan ini menyangkut berapa harikah sebelum timbul gejala seseorang dianggap sebagai kontak apabila mereka terpajan dengan penderita suspect atau probable SARS.
Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekitarnya
1) Menjenguk penderita
  • Semua penderita suspect dan probable SARS harus dirawat diruang isolasi atau ruangan kohort. Penderita suspect dan probable harus dirawat dalam ruangan terpisah
  • Ambil spesimen (spuntum, darah, serum dan urine) untuk pemeriksaan laboratorium, tujuannya adalah untuk menyingkirkan penyebab pneumonia yang umum, termasuk yang atipik; selalu pikirkan kemungkinan koinfeksi SARS dan lakukan pemeriksaan foto thorax dengan cara yang tepat.
  • Ambil sampel untuk pemeriksaan laboratorium penunjang diagnosis SARS seperti : hitung lekosit, hitung trombosit, pemeriksaan creatinine phosphokinase, pemeriksaan fungsi hati, pemeriksaan urea dan elektrolit, pemeriksaan C-reactive protein dan sera ganda.
Petugas yang melakukan pengambilan sampel untuk pemeriksaan laboratorium dan petugas yang melakukan perawatan dan pengobatan penderita SARS serta yang melakukan tindakan yang dapat menimbulkan aerosolisasi seperti : melakukan nebulizer, fisioterapi thorax, bronkoskopi, gastroskopi dan tindakan-tindakan lain pada saluran nafas, petugas tersebut harus mengenakan PPE lengkap.

Pada saat penderita masuk ruang perawatan segera diberikan antibiotika yang umum diberikan kepada penderita pneumonia sampai dengan diagnosa terhadap Respiratory Distress Syndrome (RDS) yang penyebabnya diketahui dan umum terjadi dimasyarakat dapat dikesampingkan. Berbagai jenis antibiotika telah dicoba diberikan kepada penderita SARS tanpa hasil yang jelas. Pada beberapa penderita SARS tertentu diberikan Ribavirin dengan atau tanpa steroid, efektivitasnya tidak jelas dan ditemukan banyak efek samping yang berat.

Diusulkan untuk melakukan penelitian efektivitas pemberian terapi ribavirin dan tindakan lain secara terkoordinasikan dengan penderita secara multicenter.

2) Manajemen kontak : 
Berikan penjelasan kepada kontak tentang gejala-gejala dan tanda-tanda serrta cara-cara penularan SARS. Lakukan pengamatan ketat terhadap kontak selama 10 hari, anjurkan kepada mereka untuk tetap tinggal dirumah tidak pergi kemana-mana. Catat suhu badan mereka setiap hari, tekankan kepada mereka bahwa gejala SARS pertama yang muncul adalah demam.

Pastikan bahwa petugas surveilans selalu mengunjungi atau menghubungi kontak melalui telpon untuk melihat apakah ada kenaikan suhu badan atau tanda-tanda dan gejala lainnya muncul. Apabila ada kenaikan suhu badan dan muncul tanda-tanda dan gejala-gejala kearah SARS, rujuk dan lakukan pemeriksaan lanjutan difasilitas kesehatan yang telah ditunjuk dan disiapkan dengan fasilitas yang memadai untuk menangani penderita SARS.

Apabila penderita suspect atau probable SARS sudah dapat disingkirkan dari diagnosa SARS karena telah ditemukan diagnosa lain maka kontak ini dapat dikeluarkan dari surveilans dan dipulangkan atau dirawat sebagai penderita penyakit biasa.
Tindakan penanggulangan wabah  
Saat terjadi wabah SARS pada tahun 2003, persepsi masyarakat awam bahwa penularan terjadi ditempat-tempat umum ternyata jauh dari kenyataan. Oleh karena itu pada saat terjadi KLB/wabah SARS, masyarakat agar diberikan penjelasan yang memadai supaya tidak terjadi kepanikan dimasyarakat.

Segera bentuk panitia penanggulangan KLB/wabah SARS ditingkat nasional yang terdiri dari instansi lintas sektor untuk mengawasi dan mengarahkan upaya penanggulangan KLB/wabah SARS yang sedang terjadi. Evaluasi dilakukan terhadap upaya atau tindakan epidemiologis dan terhadap manajemen penderita difasilitas kesehatan dan evaluasi juga dilakukan terhadap upaya lain untuk memperoleh informasi lebih jelas.

Berikan penyuluhan kepada masyarakat tentang risiko penularan SARS, tentang definisi kontak, tentang tanda-tanda dan gejala klinis SARS. Berikan penjelasan melalui media massa tentang cara-cara menghindari kontak dengan penderita SARS. Buka jaringan telepon “hotline” dan cara-cara lain yang dapat menjawab berbagai pertanyaan masyarakat tentang SARS. Pastikan bahwa masyarakat tahu kemana mereka harus mencari informasi tentang SARS. Siapkan fasilitas “triage” yang memadai dan pastikan bahwa mesyarakat tahu lokasi fasilitas tersebut dan cara mencapainya.

Implikasi bencana : sama halnya dengan berbagai penyakit emerging disease lainnya, maka SARS memberikan dampak yang sangat buruk terhadap sosial – ekonomi dan perdagangan suatu negara.

Tindakan internasional
WHO menyelenggarakan surveilans global secara terus menerus terhadap kasus klinis SARS baik yang suspect maupun probable. Saat ini sedang dilakukan survei serologis terhadap kontak dan survei serologis di masyarakat (community based survey) sebagai bagian dari studi epidemiologis. Studi epidemiologis ini nantinya akan mengubah pandangan kita tentang transmisi SARS.
WHO selalu menyediakan informasi mutahir yang teratur tentang SARS dan memberikan rekomendasi perjalanan berdasarkan data dan fakta (evidence based – travel recommendation). Cara – cara ini sangat efektif untuk mencegah penyebaran virus SARS melalui lalu lintas dan perjalanan manusia lintas negara.


Daftar pustaka :
  1. Kepmenkes No.424/MENKES/SK/IV/2003 tentang penetapan SARS sebagai penyakit yang dapat menimbulkan wabah dan pedoman penanggulangan.
  2. Discovery Health Channel Licoricemay help against sars, June 24,2003
  3. SARS epidemiology to date diakses dari  http://www.who.int/csr/sars/epi2003_04_11/en/
  4. FERAIBRAHLM' &T. MIRAWATI SUDIRO.2003. Jurnal Mikrobiologi Indonesia, hlm. 35-38. Jakarta:FKUI. diakses dari http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/82033538.pdf


Rabu, 16 Maret 2011

DISENTRI

Definisi
Disentri berasal dari bahasa Yunani, yaitu dys (gangguan) dan enteron (usus), yang berarti radang usus yang menimbulkan gejala meluas dengan gejala buang air besar dengan tinja berdarah, diare encer dengan volume sedikit, buang air besar dengan tinja bercampur lender (mucus) dan nyeri saat buang air besar (tenesmus).(1)
Disentri merupakan peradangan pada usus besar yang ditandai dengan sakit perut dan buang air besar yang encer secara terus menerus (diare) yang bercampur lendir dan darah.(2)
Disentri merupakan suatu infeksi yang menimbulkan luka yang menyebabkan tukak terbatas di colon yang ditandai dengan gejala khas yang disebut sebagai sindroma disentri, yakni: 
  1. Sakit di perut yang sering disertai dengan tenesmus, 
  2. Berak-berak, dan 
  3. Tinja mengandung darah dan lendir. 
Adanya darah dan lekosit dalam tinja merupakan suatu bukti bahwa kuman penyebab disentri tersebut menembus dinding kolon dan bersarang di bawahnya.(3-4)

Epidemiologi
Di Amerika Serikat, insidensi penyakit ini rendah. Setiap tahunnya kurang dari 500.000 kasus yang dilaporkan ke Centers for Disease Control (CDC). Di Bagian Penyakit Dalam RSUP Palembang selama 3 tahun (1990-1992) tercatat di catatan medis, dari 748 kasus yang dirawat karena diare ada 16 kasus yang disebabkan oleh disentri basiler. Sedangkan hasil penelitian yang dilakukan di beberapa rumah sakit di Indonesia dari Juni 1998 sampai dengan Nopember 1999, dari 3848 orang penderita diare berat, ditemukan 5% Shigella.
Prevalensi amebiasis sangat bervariasi, diperkirakan 10 persen populasi terinfeksi. Prevalensi tertinggi di daerah tropis (50-80%). Manusia merupakan host dan reservoir utama. Penularannya lewat kontaminasi tinja ke makanan dan minuman, dengan perantara lalat, kecoak, kontak interpersonal, atau lewat hubungan seksual anal-oral. Sanitasi lingkungan yang jelek, penduduk yang padat dan kurangnya sanitasi individual mempermudah penularannya.

Etiologi
Etiologi dari disentri ada 2, yaitu : (1) 

1. Disentri basiler, disebabkan oleh Shigella,s p. 

Shigella adalah basil non motil, gram negatif, famili enterobacteriaceae. Ada 4 spesies Shigella, yaitu S.dysentriae, S.flexneri, S.bondii dan S.sonnei. Terdapat 43 serotipe O dari Shigella. S.sonnei adalah satu-satunya yang mempunyai serotipe tunggal. Karena kekebalan tubuh yang didapat bersifat serotipe spesifik, maka seseorang dapat terinfeksi beberapa kali oleh tipe yang berbeda. Genus ini memiliki kemampuan menginvasi sel epitel intestinal dan menyebabkan infeksi dalam jumlah 102-103 organisme. Penyakit ini kadang-kadang bersifat ringan dan kadang-kadang berat. Suatu keadaan lingkungan yang jelek akan menyebabkan mudahnya penularan penyakit. Secara klinis mempunyai tanda-tanda berupa diare, adanya lendir dan darah dalam tinja, perut terasa sakit dan tenesmus. Shigella sp merupakan penyebab terbanyak dari diare invasif (disentri) dibandingkan dengan penyebab lainnya.
Hal ini tergambar dari penelitian yang dilakukan oleh Taylor dkk. di Thailand pada tahun 1984.5

2. Disentri amoeba, disebabkan Entamoeba hystolitica. 

E.histolytica merupakan protozoa usus, sering hidup sebagai mikroorganisme komensal apatogen) di usus besar manusia. Apabila kondisi mengijinkan dapat berubah menjadi patogen dengan cara membentuk koloni di dinding usus dan menembus dinding usus sehingga menimbulkan ulserasi. Siklus hidup amoeba ada 2 bentuk, yaitu bentuk trofozoit yang dapat bergerak dan bentuk kista.
Bentuk trofozoit ada 2 macam, yaitu trofozoit komensal (berukuran < 10 mm) dan trofozoit patogen (berukuran > 10 mm). Trofozoit komensal dapat dijumpai di lumen usus tanpa menyebabkan gejala penyakit. Bila pasien mengalami diare, maka trofozoit akan keluar bersama tinja. Sementara trofozoit patogen yang dapat dijumpai di lumen dan dinding usus (intraintestinal) maupun luar usus (ekstraintestinal) dapat mengakibatkan gejala disentri. Diameternya lebih besar dari trofozoit komensal dapat sampai 50 mm) dan mengandung beberapa eritrosit di dalamnya. Hal ini dikarenakan trofozoit patogen sering menelan eritrosit (haematophagous trophozoite). Bentuk trofozoit ini bertanggung jawab terhadap terjadinya gejala penyakit namun cepat mati apabila berada di luar tubuh manusia. mempunyai tanda-tanda berupa diare, adanya lendir dan darah dalam tinja, perut terasa sakit dan tenesmus.
Bentuk kista juga ada 2 macam, yaitu kista muda dan kista dewasa. Bentuk kista hanya dijumpai di lumen usus. Bentuk kista bertanggung jawab terhadap terjadinya penularan penyakit dan dapat hidup lama di luar tubuh manusia serta tahan terhadap asam lambung dan kadar klor standard di dalam sistem air minum. Diduga kekeringan akibat penyerapan air di sepanjang usus besar menyebabkan trofozoit berubah menjadi kista.(6)

Distribusi penyakit
Amoebiasis ada dimana-mana. Invasive amoebiasis biasanya terjadi pada dewasa muda. Abses hati terjadi terutama pada pria. Amoebiasis jarang terjadi pada usia dibawah 5 tahun dan terutama di bawah 2 tahun, pada usia ini disenteri biasanya karena shigella. Angka prevalensi kista yang di publikasikan, biasanya didasarkan pada bentuk morfologi dari kista, sangat bervariasi dari satu tempat ketempat lain. Pada umumnya, angka ini lebih tinggi di tempat dengan sanitasi buruk (sebagian besar daerah tropis), di institusi perawatan mental dan diantara para homoseksual pria, (kemungkinan kista dari E. dispar). Di daerah dengan sanitasi yang baik, infeksi amoeba cenderung terjadi di rumah tangga dan institusi. Proporsi dari pembawa kista yang menunjukkan gejala klinis biasanya rendah.

Cara penularan
Bakteri tersebut dapat tersebar dan menular melalui makanan dan air yang sudah terkontaminasi kotoran dan bakteri yang dibawa oleh lalat. Lalat merupakan serangga yang hidup di tempat yang kotor dan bau, sehingga bakteri dengan mudah menempel di tubuhnya dan menyebar di setiap tempat yang dihinggapi.
Bakteri masuk ke dalam organ pencernaan mengakibatkan pembengkakan hingga menimbulkan luka dan peradangan pada dinding usus besar. Inilah yang menyebabkan kotoran penderita sering kali tercampur nanah dan darah. Penularan mungkin terjadi secara seksual melalui kontak oral-anal. Penderita dengan disentri amoeba akut m ungkin tidak akan membahayakan orang lain karena tidak adanya kista dan trofosoit pada kotoran

Gejala
Setelah masa inkubasi yang pendek (1-3 hari) secara mendadak timbul nyeri perut, demam, dan tinja encer. Tinja yang encer tersebut berhubungan dengan kerja eksotoksin dalam usus halus. Sehari atau beberapa hari kemudian, karena infeksi meliputi ileum dan kolon, maka jumlah tinja meningkat, tinja kurang encer tapi sering mengandung lendir dan darah. Tiap gerakan usus disertai dengan “mengedan” dan tenesmus (spasmus rektum), yang menyebabkan nyeri perut bagian bawah. Demam dan diare sembuh secara spontan dalam 2-5 hari pada lebih dari setengah kasus dewasa. Namun, pada anak-anak dan orang tua, kehilangan air dan elektrolit dapat menyebabkan dehidrasi, asidosis, dan bahkan kematian.
Kebanyakan orang pada penyembuhan mengeluarkan kuman disentri untuk waktu yang singkat, tetapi beberapa diantaranya tetap menjadi pembawa kuman usus menahun dan dapat mengalami serangan penyakit berulang-ulang. Pada penyembuhan infeksi, kebanyakan orang membentuk antibodi terhadap Shigella dalam darahnya, tetapi antibodi ini tidak melindungi terhadap reinfeksi.

Cara penanggulangan
Pencegahan
Penyakit disentri basiler ini dapat dicegah dengan cara :
1. Selalu menjaga kebersihan dengan cara mencuci tangan dengan sabun secara teratur dan teliti
2. Mencuci sayur dan buah yang dimakan mentah
3. Orang yang sakit disentri basiler sebaiknya tidak menyiapkan makanan
4. Membuang tinja dengan cara yang saniter
4. Memasak makanan sampai matang
5. Selalu menjaga sanitasi air, makanan, maupun udara
6. Melindungi sumber air umum dari kontaminasi tinja
6. Mengatur pembuangan sampah dengan baik
7. Mengendalikan vector dan binatang pengerat 

Pengobatan
Pada infeksi ringan umumnya dapat sembuh sendiri, penyakit akan sembuh pada 4-7 hari. Minum lebih banyak cairan untuk menghindarkan kehabisan cairan, jika pasien sudah pada tahap dehidrasi maka dapat diatasi dengan Rehidrasi Oral . Pada pasien dengan diare berat disertai dehidrasi dan pasien yang muntah berlebihan sehingga tidak dapat dilakukan Rehidrasi Oral maka harus dilakukan Rehidrasi Intravena . umumnya pada anak kecil terutama bayi lebih rentan kehabisan cairan jika diare. Untuk infeksi berat Shigella dapat diobati dengan menggunakan antibiotika termasuk ampicilin, trimethoprim-sulfamethoxazole, dan ciprofloxacin. Namun, beberapa Shigella telah menjadi kebal terhadap antibiotika, ini terjadi karena penggunaan antibiotika yang sedikit-sedikit untuk melawan shigellosis ringan

Daftar pustaka :
  1. Sya’roni A., Hoesadha Y., 2006. Disentri Basiler. Buku Ajar Penyakit Dalam.FKUI:Jakarta.
  2. Hembing, 2006. Jangan Anggap Remeh Disentri. Diakses dari http://portal.cbn.net.id/cbprtl/cybermed. 
  3. Harris JC, Du Pont HL, Hornick RB. Fecal leuqpcytes in diarrheal ilness. Am Intern Med 1972; 76 : 697-3.
  4. Pickering LK, Du Pont HL, Olarte J, Conklin R, Ericsson C. Fecal leucocytes in enteric infections. Am J Clin Pathol 1977; 66 :562-5.
  5. Vogtlin J, Stalder H, Hurzcler L dkk. Modified Guaiac test may replace search for faecal leucocytes in acute infectious diarrheal. Lancet 1983; ii : 1204
  6. Davis K., 2007.Amebiasis. Diakses dari : http://www.emedicine.com/med/topic116.htm

Kamis, 16 Desember 2010

KEJADIAN LUAR BIASA (KLB)

Menurut undang-undang no.4 pasal 1 tahun 1984 tentang wabah penyakit menyebutkan bahwa wabah penyakit menular yang selanjutnya disebut wabah adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka.
Penyakit yang berpotensial menimbulkan wabah menurut Permenkes
560/MENKES/PER/VIII/1989 meliputi :

1. Kholera
2. Pes
3. Demam Kuning
4. Demam Bolak-balik
5. Tifus Bercak wabah
6. DBD
7. Campak
8. Polio
9. Difteri
10. Pertusis
11. Rabies
12. Malaria
13. Influenza
14. Hepatitis
15. Tifus Perut
16. Meningitis
17. Ensefalitis
18. Antraks
Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah timbulnya atau meningkatnya kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemiologis dalam kurun waktu dan daerah tertentu. (Kep. Dirjen PPM&PLP No.451-I/PD.03.04/1991). Laporan wabah atau Kejadian Luar Biasa dari puskesmas dan rumah sakit merupakan salah satu komponen penting untuk deteksi dini terhadap kejadian luar biasa suatu penyakit sehingga wajib dikirimkan seminggu sekali oleh puskesmas dan rumah sakit ke dinas kesehatan. Laporan Wabah memuat jumlah penderita dan kematian dari penyakit-penyakit potensial KLB tertentu serta masalah kesehatan ibu/anak.
Tujuan Penyidikan KLB
Tujuan Umum :
• Mencegah meluasnya (penanggulangan).
• Mencegah terulangnya KLB di masa yang akan datang (pengendalian).
Tujuan khusus :
• Diagnosis kasus yang terjadi dan mengidentifikasi penyebab penyakit .
• Memastikan bahwa keadaan tersebut merupakan KLB,
• Mengidentifikasikan sumber dan cara penularan
• Mengidentifikasi keadaan yang menyebabkan KLB
• Mengidentifikasikan populasi yang rentan atau daerah yang
beresiko akan terjadi KLB (CDC, 1981; Bres, 1986).

Batasan KLB meliputi arti yang luas:
1. Meliputi semua kejadian penyakit, dapat suatu penyakit infeksi akut kronis ataupun penyakit non infeksi.
2. Tidak ada batasan yang dapat dipakai secara umum untuk menentukan jumlah penderita yang dapat dikatakan sebagai KLB. Hal ini selain karena jumlah kasus sangat tergantung dari jenis dan agen penyebabnya, juga karena keadaan penyakit akan bervariasi menurut tempat
(tempat tinggal, pekerjaan) dan waktu (yang berhubungan dengan keadaan iklim) dan pengalaman keadaan penyakit tersebut sebelumnya.
3. Tidak ada batasan yang spesifik mengenai luas daerah yang dapat dipakai untuk menentukan KLB, apakah dusun, desa, kecamatan, kabupaten atau meluas satu propinsi dan negara. Luasnya daerah sangat tergantung dari cara penularan penyakit tersebut.
4. Waktu yang digunakan untuk menentukan KLB juga bervariasi. KLB dapat terjadi dalam beberapa jam, beberapa hari atau minggu atau beberapa bulan maupun tahun.

Kriteria kerja KLB
1. Timbulnya suatu penyakit/penyakit menular yang sebelumnya tidak ada/tidak dikenal.
2. Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus-menerus selama 3 kurun waktu berturut-turut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu, bulan, tahun).
3. Peningkatan kejadian penyakit/kematian, dua kali atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya (hari, minggu, bulan, tahun).
4. Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan dua kali lipat atau lebih bila dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam tahun sebelumnya.
5. Angka rata-rata per bulan selama satu tahun menunjukkan kenaikan dua kali lipat atau lebih dibandingkan dengan angka rata-rata per bulan dari tahun sebelumnya.
6. Case Fatality Rate (CFR) dari suatu penyakit dalam suatu kurun waktu tertentu menunjukkan kenaikan 50% atau lebih dibanding dengan CFR dari periode sebelumnya.
7. Propotional rate (PR) penderita baru dari suatu periode tertentu menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibanding periode yang sama dan kurun waktu atau tahun sebelumnya.
8. Beberapa penyakit khusus : kolera, DHF/DSS
o Setiap peningkatan kasus dari periode sebelumnya (pada daerah endemis).
o Terdapat satu atau lebih penderita baru dimana pada periode 4 minggu sebelumnya daerah tersebut dinyatakan bebas dari penyakit yang bersangkutan.
9. Beberapa penyakit yang dialami 1 atau lebih penderita :
a) Keracunan makanan
b) Keracunan pestisida
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TIMBULNYA WABAH
a. Herd Immunity yang rendah
Herd imunnity adalah tingkat kemampuan atau daya tahan suatu kelompok penduduk tertentu terhadap serangan atau penyebaran unsur penyebab penyakit menular tertentu berdasarkan tingkat kekebalan sejumlah tertentu anggota kelompok tersebut. Herd Immunity merupakan faktor utama dalam proses kejadian wabah di masyarakat serta kelangsungan penyakit pada suatu kelompok penduduk tertentu.

b. Patogenesiti
Kemampuan bibit penyakit untuk menimbulkan reaksi pada pejamu sehingga timbul sakit.
c. Lingkungan Yang Buruk
Seluruh kondisi yang terdapat di sekitar organisme tetapi mempengaruhi kehidupan ataupun perkembangan organisme tersebut.
Wabah terjadi karena 2 keadaan :
•Keadaan kekebalan populasi yakni suatu wabah besar dapat terjadi jika agent penyakit infeksi masuk ke dalam suatu populasi yang tidak pernah terpapar oleh agen tersebut atau kemasukan suatu agen penyakit menular yang sudah lama absen dalam populasi tersebut.
•Bila suatu populasi tertutup seperti asrama, barak dimana keadaan sangat tertutup dan mudah terjadi kontak langsung, masuknya sejumlah orang-orang yang peka terhadap penyakit tertentu dalam populasi tsb. Ex: Asrama mahasiswa/tentara.

Penanggulangan secara dini dimaksudkan untuk mencegah timbulnya kejadian luar biasa dari suatu penyakit wabah yang dapat menjurus terjadinya wabah yang dapat mengakibatkan malapetaka. Hal ini disebabkan karena wabah penyebarannya dapat berlangsung secara cepat, baik melalui perpindahan, maupun kontak hubungan langsung atau karena jenis dan sifat dari kuman penyebab penyakit wabah itu sendiri. Fakta lain yang dapat menimbulkan wabah penyakit menular, dapat disebabkan karena kondisi masyarakat dari satu wilayah tertentu kurang mendukung antara lain kesehatan lingkungan yang kurang baik atau gizi masyarakat yang belum baik.

Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu, dan merupakan keadaan yang dapat menjurus pada terjadinya wabah.
Upaya penanggulangan wabah meliputi:
a. penyelidikan epidemiologis;
b. pemeriksaan, pengobatan, perawatan, dan isolasi penderita, termasuk tindakan karantina;
c. pencegahan dan pengebalan;
d. pemusnahan penyebab penyakit;
e. penanganan jenazah akibat wabah;
f. penyuluhan kepada masyarakat;

Sumber : http://www.depkes.go.id/
PP no 40 Tahun 1991

EKKI INDRI RETNO UTAMI
Mahasiswa FKM UNDIP

Jumat, 12 November 2010

Penyelidikan Epidemiologi

Dalam epidemiologi kita mengenal istilah Penyelidikan Epidemiologi (Epidemiology Investigation) yaitu penyelidikan atau survei yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran terhadap masalah kesehatan atau penyakit secara lebih menyeluruh. Yang diselidiki dalam epidemiology investigation adalah mengenai apakah tempat yang terkena KLB tersebut merupakan endemik atau epidemik penyakit, merupakan penyakit infeksi atau penyakit kronis, dan kondisi kesehatan lainnya.
Tujuan diadakan penyelidikan epidemiologi adalah untuk :
1. Mendapatkan gambaran masalah yang sesungguhnya
2. Mendapat gambaran klinis tentang suatu penyakit
3. Mendapat gambaran mengenai kasus menurut variabel epidemiologi
4. Mendapat informasi tentang faktor resiko (lingkungan, vektor, perilaku, dll) dan etiologi
Dengan mengetahui tujuan tersebut diharapkan seorang epidemilogist dapat mengambil tindakan untuk pencegahan maupun penanggulangan penyakit.
Kegiatan yang dilakukan dalam penyelidikan epidemiologi meliputi :
1. Investigate : mencari informasi dengan cara wawancara, ataupun menyelidiki ke daerah yang terkena wabah
2. Collecting : mengumpulkan informasi yang berhubungan dengan kejadian wabah
3. Analyze : menganalisis informasi yang telah didapat
4. Conclusion : menyimpulkan informasi

Beberapa contoh mengenai penyelidikan epidemiologi :
a. Penyakit Malaria
Malaria adalah penyakit yang menyerang manusia, burung, kera dan primata lainnya, hewan melata dan hewan pengerat. Perkembangan penyakit malaria tergantung dari faktor lingkungan yang memungkinkan nyamuk Anopheles untuk berkembang menjadi vektor. Penyakit malaria adalah infeksi yang disebabkan oleh parasit malaria, yang merupakan suatu protozoa darah dari genus plasmodium, bentuk aseksual yang masuk ke dalam tubuh manusia yang ditularkan oleh gigitan nyamuk malaria (Anopheles spp) betina. Ada 4 jenis Plasmodium yang menyebabkan penyakit malaria, Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium malariae, Plasmodium ovale. Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax adalah jenis Plasmodium yang menyebabkan penyakit malaria pada manusia.
Gejala yang terjadi pada penyakit malaria adalah menggigil, demam, serta berkeringat. Penularan malaria dipengaruhi oleh faktor agent, host (nyamuk dan manusia), dan environmental. Mengingat distribusi penyebaran malaria sangat luas dan Indonesia merupakan daerah endemik malaria, hal yang terpenting dalam mencegah penularan malaria adalah kekebalan tubuh dari individu, selain itu perlu adanya penyemprotan insektisida didalam ruangan. Nyamuk Anopheles sp aktif menggigit pada malam hari, nyamuk ini menyukai tempat-tempat seperti di pinggir-pinggir parit, tebing sungai, dekat air yang selalu basah dan lembab, dll.
Penularan malaria melalui gigitan nyamuk Anopheles betina juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan seperti pola musim, curah hujan, kelembaban, dll. Walaupun seorang berada di daerah non endemik dari malaria, dia bisa juga terkena malaria. Hal ini bisa disebabkan karena ia pernah berada di daerah endemis, misalnya karena hal pekerjaan, mengungsi, dll.
Penyelidikan epidemiologi tentang penyakit malaria bisa dilakukan dengan :
a. Memeriksa darah penderita
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui apakah didalam darah penderita terdapat jenis plasmodium penyebab malaria.
b. Pemeriksaan jentik dan nyamuk
Kegiatan ini dilakukan di daerah tempat tinggal penderita, untuk mengetahui jenis nyamuk yang berada di lingkungan tersebut apakah daerah tersebut merupakan endemis atau hanya sebagai pendemi.
c. Pemeriksaan habitat nyamuk Anopheles
Bertujuan untuk mengetahui kharakteristik habitat yang disukai oleh Anopheles sp. Termasuk didalamnya tempat beristirahat dan tempat bertelur.
d. Wawancara dengan penderita
Hal ini dilakukan untuk mengetahui kronologi kejadian mengapa penderita bisa terkena malaria.
Untuk pengobatan malaria, beberapa jenis obat yang dikenal umum adalah:
- Obat standar: klorokuin dan primakuin
- Obat alternatif: Kina dan Sp (Sulfadoksin + Pirimetamin)
- Obat penunjang: Vitamin B Complex, Vitamin C dan SF (Sulfas Ferrosus)
- Obat malaria berat: Kina HCL 25% injeksi (1 ampul 2 cc)
- obat standar dan Klorokuin injeksi (1 ampul 2 cc) sebagai obat alternatif

Pemberantasan dari Anopheles sp bisa dilakukan secara kimiawi dengan pemberian insektisida dan secara biologi dengan adanya predator yang memakan jentik-jentik nyamuk.

b. Penyakit Tuberkulosis Paru
Di Indonesia, TBC merupakan penyebab kematian utama dan angka kesakitan dengan urutan teratas setelah ISPA. Indonesia menduduki urutan ketiga setelah India dan China dalam jumlah penderita TBC di dunia. Penyakit ini mudah menular, seperti halnya flu biasa dan cepat menyebar pada orang-orang yang hidup bersama penderita. TBC disebabkan oleh Bakteri Mycobacterium tuberculosa berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-4/Um dan tebal 0,3-0,6/Um. Dan ditandai adanya pembentukan granuloma pada jaringan yang terinfeksi akibat reaksi hipersensitifitas yang diperantai oleh sel. kuman TB cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam ditempat yang gelap dan lembab.

Sumber penularanya adalah penderita TB positif. Pada waktu batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk Droplet (percikan Dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan diudara pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup kedalam saluran pernapasan. Namun bila daya tahan tubuh seseorang itu baik maka kuman yang ada didalam tubuh hanya akan menetap dan tidak akan menyebabkan infeksi dan saat daya tahan tubuh sedang turun maka kuman akan menjadi aktif dan menyebabkan timbulnya infeksi pada orang tersebut.
Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Kemungkinan seseorang terinfeksi TB ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut.
Gejala TB adalah batuk terus menerus dan berdahak selama 3 minggu atau lebih, Dahak bercampur darah, batuk darah, sesak nafas dan rasa nyeri dada, badan lemah, nafsu makan menurun, berat badan menurun, rasa kurang enak badan (malaise), berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan, demam meriang lebih dari satu bulan.
Adanya infeksi dapat dibuktikan dengan terjadinya perubahan reaksi tuberkulin dari negatif menjadi positif. Kelanjutan setelah infeksi primer tergantung kuman yang masuk dan besarnya respon daya tahan tubuh (imunitas seluler). Masa inkubasi, yaitu waktu yang diperlukan mulai terinfeksi sampai menjadi sakit, diperkirakan sekitar 6 bulan.
Komplikasi pada penderita tuberkulosis pada penderita stadium lanjut yaitu Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah) yang dapat mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau tersumbatnya jalan napas, kolaps dari lobus akibat retraksi bronkial,
Bronkiectasis dan Fibrosis pada paru, Pneumotoraks spontan: kolaps spontan karena kerusakan jaringan paru. Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, ginjal dan sebagainya.
Penyelidikan epidemiologi yang dilakukan :
a. Memeriksa dahak penderita
Memastikan diagnosa melalui pemeriksaan dahak, makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak terlihat kuman), maka penderita tersebut dianggap tidak menular.
b. Pemeriksaan rontgen dada atau pada temapat lain yang disesuaikan keperluan, pemeriksaan darah dan kadar gula darah.
c. Wawancara dengan Penderita
Dilakukan untuk mengetahui riwayat penyakit yang diderita penderita sebelumnya. Apakah dahulu pernah mengalami TB Paru dan berhasil disembuhkan ataupun belum pernah sama sekali.
Pencegahan
• Imunisasi BCG pada anak balita, Vaksin BCG sebaiknya diberikan sejak anak masih kecil agar terhindar dari penyakit tersebut.
• Jangan minum susu sapi mentah dan harus dimasak
• Bagi penderita untuk tidak membuang ludah sembarangan.
• Pencegahan terhadap penyakit TBC dapat dilakukan dengan tidak melakukan kontak udara dengan penderita, minum obat pencegah dengan dosis tinggi dan hidup secara sehat. Terutama rumah harus baik ventilasi udaranya dimana sinar matahari pagi masuk ke dalam rumah.
• Tutup mulut dengan sapu tangan bila batuk serta tidak meludah/mengeluarkan dahak di sembarangan tempat dan menyediakan tempat ludah.
c. Penyakit Campak
Penyakit Campak adalah suatu infeksi virus yang sangat menular, yang ditandai dengan demam, batuk, konjungtivitis (peradangan selaput ikat mata/konjungtiva), ruam kulit bercak seluruh tubuh terkadang sampai borok borok bernanah. Penyakit ini disebabkan karena infeksi virus campak golongan Paramyxovirus (Virus Morbili). Penularan infeksi terjadi karena menghirup percikan ludah penderita campak. Penderita bisa menularkan infeksi ini dalam waktu 2-4 hari sebelum rimbulnya ruam kulit dan 4 hari setelah ruam kulit ada. Penularan campak biasanya ditularkan sewaktu seseorang menyedot virus campak yang telah dibatukkan atau dibersinkan ke dalam udara oleh orang yang dapat menularkan penyakit.

Gejala penyakit campak dimulai dengan panas badan kemudian suhu makin meninggi waktu akan timbul gejala gejala pada kulit, Radang tenggorokan, pilek, batuk kering, radang selaput mata. Pada hari kelima timbul bercak merah pada kulit mula mula timbul dibelakang telinga, tengkuk, kemudian menyebar keseluruh tubuh. Bercak merata, kadang disertai borok bernanah, setelah kurang lebih tiga hari menghilang sesuai urutan kejadian. Bercak meninggalkan bekas kehitaman yang merupakan gejala khas penyakit campak.
4 fase Campak:
1. fase Inkubasi
Fase inkubasi berlangsung sekitar 10-12 hari. Di fase ini agak sulit mendeteksi infeksinya karena gejalanya masih bersifat umum bahkan tidak terlihat sama sekali.
2. Fase Prodormal
Adalah fase dimana gejala penyakit sudah mulai timbul seperti flu, batuk, pilek, dan demam. Mata anak pun akan tampak kemerah-merahan dan berair. Ciri lain, di sebelah dalam mulut muncul bintik-bintik putih yang akan bertahan 3-4 hari.
3. Fase Makulopapuler
Fase makulopapuler yakni keluarnya bercak merah yang sering diiringi demam tinggi antara 38-40,5°C.
4.Fase Penyembuhan
Bila bercak merah sudah keluar, umumnya demam akan turun dengan sendirinya. Selanjutnya bercak merah akan berubah menjadi kehitaman dan bersisik, disebut hiperpigmentasi. Pada akhirnya bercak akan mengelupas atau rontok atau sembuh dengan sendirinya. Umumnya, dibutuhkan waktu hingga 2 minggu sampai sembuh benar dari sisa-sisa campak.

Pencegahan penularan penyakit campak :
- Meningkatkan keadaan gizi anak
- Campak mudah menular, jadi bila ada penderita harus diisolasi atau menjauhkan anak yang sehat dari penderita
- Imunisasi campak pada bayi umur sembilan bulan.
Cara Mengobati Campak:
pengobatan campak hanya bersifat simptomatis, yakni mengobati gejalanya saja. Sementara hingga saat ini, belum ditemukan obat yang bisa langsung mengatasi virus campak.
Pengobatan gejala sangat penting dilakukan karena bila tidak ditangani dengan baik campak bisa sangat berbahaya.

Penyelidikan epidemiologis:
a. Melakukan wawancara dengan penderita
Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah sebelumnya penderita terpapar campak dari rekan atau orang terdekat, serta untuk mengetahui apakah sebelumnya telah dilakukan imunisasi terhadap penderita
b. Menyelidiki keadaan lingkungan
Dimaksudkan untuk mengetahui apakah di lingkungan penderita sedang terjadi wabah campak.
Akibat yang akan timbul bila Campak tidak diobati :
• Radang telinga tengah
• Radang selaput otak
• Radang otak
d. Lahir mati
Lahir mati adalah kematian janin di antara minggu ke 20 kehamilan (bulan ke 5) sehingga kelahiran dikarenakan adanya kecacatan struktur kromosom, kesehatan ibu pada sebelum hamil dan selama kehamilan yang mengalami masalah. Misal, ibu menderita diabetes mellitus dan hipertensi. Ada masalah pada plasenta, tali pusar yang jatuh ataupun melilit ke leher bayi, dan masih banyak lagi. Perempuan yang mempunyai resiko melahirkan bayi dalam keadaan meninggal adalah seorang perempuan perokok, peminum minuman keras, pecandu narkoba, hamil dalam usia yang terlalu tua maupun terlalu muda, obesitas, terjangkit virus maupun bakteri, dan wanita yang telah mengalami lahir mati sebelumnya.
Gejala lahir mati, terjadi pendarahan, janin tidak lagi melakukan pergerakan dalam rahim, merasa sakit di bagian pinggang serta terjadi perubahan fisik seperti payudara menjadi kecil. Pencegahan dilakukan dengan memerhatikan kesehatan sebelum mengandung dan selama kehamilan, termasuk asupan makanan tiap hari, hindari alkohol, narkoba, serta paparan pestisida, hindari kehamilan pada usia terlalu dini maupun usia tua.
Setelah kita mengetahui tentang faktor-faktor yang mempengaruhi lahir mati, Penyelidikan epidemiologi dapat dilakukan dengan cara :
a. Wawancara terhadap Ibu yang mengalami lahir mati
Untuk mengetahui asupan gizi selama hamil, penyakit yang diderita, umur saat hamil
b. Survei ke lingkungan tempat tinggal
Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah lingkungan mendukung terjadinya lahir mati, misalnya lingkungan di daerah pertanian maupun industri, paparan dari pestisida dan limbah kimia bisa menyebabkan lahir mati. Selain itu, kebudayaan setempat, apakah di daerah tersebut memiliki adat untuk menikahkan anaknya di usia yang masih belia.
c. Melakukan autopsi terhadap janin yang telah mati
Untuk mengetahui penyebab kematian secara pasti.

e. Kematian Ibu
Angka kematian ibu di Indonesia masih tergolong tinggi. Kematian ibu adalah kematian perempuan pada saat hamil atau kematian dalam kurun waktu 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lamanya kehamilan atau tempat persalinan, yakni kematian yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya, tetapi bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan, terjatuh dll (Budi, Utomo. 1985)
Pendarahan, infeksi, hipertensi kehamilan serta abortus tidak aman. Keempat kondisi itulah yang menjadi penyebab angka kematian Ibu ( AKI ) tetap tinggi. Diantara keempat faktor itu, pendarahan menduduki peringkat pertama dengan 45 persen kejadian.
Penyebab pendarahan disebabkan perlengketan ari-ari, robekan rahim atau otot-otot rahim yang mengendur akibat sering bersalin.Hal ini bisa diantisipasi dengan sering periksa ada tidaknya risiko pendarahan itu. Selain rajin memeriksakan kehamilan, penting juga memriksakan hemoglobin. Terutama bulan keenam dan ketujuh kehamilan. Pemeriksaan Hb penting untuk menghindari kemungkinan anemia. Hal ini disebabkan ibu yang anemia berisiko otot-otot rahim melemah dan tidak segera menutup kembali pasca melahirkan. Risikonya sama, pendarahan.


EKKI INDRI RETNO UTAMI
E2A009079
MAHASISWA FKM UNDIP

Selasa, 19 Oktober 2010

JUMLAH PENDUDUK LAKI-LAKI LEBIH BANYAK DARI PEREMPUAN

Jumlah penduduk laki-laki di Indonesia menurut Badan Pusat Statistik tahun 2010 lebih banyak daripada jumlah penduduk perempuan. Dari total penduduk yang mencapai 237,56 juta jiwa, 119,51 juta jiwa adalah penduduk laki-laki.Jadi, penduduk perempuan ada 118,05 juta jiwa yang artinya ada 1,46 juta laki-laki lebih banyak. Dan ini merupakan berita bagus bagi seorang perempuan..hehehe
Seks rasio penduduk laki-laki meningkat secara nyata pada tahun 1980, dimana setiap 100 orang perempuan terdapat 100 orang laki-laki. Pada tahun 1990 ada sekitar 100,2 laki-laki. Tiga Propinsi terbesar yang mempunyai jumlah penduduk laki-laki lebih banyak adalah Papua, Papua Barat, Kalimantan Timur dengan rasio di atas 110 persen.
Menurut sensus penduduk tahun 2010, propinsi yang memiliki jumlah penduduk terbesar adalah Jawa Barat dengan total sekitar 43,02 juta jiwa. Sedangkan untuk propinsi DKI Jakarta ada sekitar 9,6 juta jiwa.
Dan berikut ini daftar jumlah penduduk tiap propinsi di Indonesia :
1. Aceh 4,48 juta
2. Sumatera Utara 12,98 juta
3. Sumatera Barat 4,84 juta
4. Riau 5,54 juta
5. Kepulauan Riau 1,69 juta
6. Jambi 3,09 juta
7. Sumatera Selatan 7,44 juta
8. Kepulauan Bangka Belitung 1,22 juta
9. Bengkulu 1,71 juta
10. Lampung 7,59 juta
11. Banten 10,54 juta
12. DKI Jakarta 9,59 juta
13. Jawa Barat 43,02 juta
14. Jawa Tengah 32,38 juta
15. DIY 3,45 juta
16. Jawa Timur 37,47 juta
17. Bali 3,89 juta
18. NTB 4,49 juta
19. NTT 4,68 juta
20. Kalimantan Barat 4,39 juta
21. Kalimantan Tengah 2,2 juta
22. Kalimantan Selatan 3,63 juta
23. Kalimantan Timur 3,55 juta
24. Sulawesi Utara 2,26 juta
25. Gorontalo 1,04 juta
26. Sulawesi Tengah 2,63 juta
27. Sulawesi Barat 1,16 juta
28. Sulawesi Selatan 8,03 juta
29. Sulawesi Utara 2,23 juta
30. Maluku 1,53 juta
31. Maluku Utara 1,03 juta
32. Papua Barat 0,76 juta
33. Papua 2,85 juta

Diprediksikan pada 10 tahun lagi penduduk Indonesia akan bertambah 32 juta jiwa. Dengan jumlah penduduk diatas 230 juta jiwa, Indonesia menduduki peringkat ke empat dunia dalam kategori jumlah penduduk. Semakin bertambahanya jumlah penduduk, berarti bertambah pula tantangan pemerintah Indonesia untuk mensejahterakan penduduk. Jelas hal ini akan menambah masalah-masalah mengenai kesehatan lingkungan seperti krisis air bersih, meningkatnya polusi, dan semakin menyempitnya daerah resapan air.

Jumat, 15 Oktober 2010

Epidemiologi dan Peranannya dalam Pemecahan Masalah Kesehatan di Masyarakat


A. Definisi Epidemiologi

Dalam beberapa kamus umum menyebutkan bahwa pengertian epidemiologi adalah ilmu tentang epidemi atau wabah. Epidemiologi berasal dari bahasa Yunani.
Epi = pada atau tentang, demos = rakyat/penduduk, logos = ilmu
Jadi epidemiologi merupakan “ilmu yang mempelajari tentang hal-hal yang terjadi pada rakyat”.
Batasan arti yang sudah berkembang dewasa ini mengartikan epidemiologi sebagai ilmu tentang terjadinya dan penyebab dari suatu masalah kesehatan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya serta upaya-upaya penanggulangannya.

Definisi epidemiologi
a. Rothman (1986)
Epidemiologi adalah “ the science of occurrence of human illness”. Epidemiologi merupakan ilmu pengetahuan tentang kejadian sakit pada manusia.

b. Azrul azwar
Epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang frekuensi dan penyebaran masalah kesehatan pada sekelompok manusia serta faktor-faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan.

c. Mac Mahon dan Pugh (1970)
Epidemiologi adalah sebagai cabang ilmu yang mempelajari penyebaran penyakit dan faktor-faktor yang menentukan terjadinya penyakit pada manusia.

d. Frost (1972)
Epidemiologi adalah suatu pengetahuan tentang fenomena massal penyakit infeksi atau sebagai riwayat alamiah penyakit menular.

e. Omran ( 1974 )
Epidemiologi adalah suatu ilmu mengenai terjadinya dan distribusi keadaan kesehatan, penyakit dan perubahan pada penduduk, begitu juga determinannya serta akibat – akibat yang terjadi pada kelompok penduduk.

f. Hirsch ( 1883 )
Epidemiologi adalah suatu gambaran kejadian, penyebaran dari jenis – jenis penyakit pada manusia pada saat tertentu di berbagai tempat di bumi dan mengkaitkan dengan kondisi eksternal.

EPIDEMIOLOGI adalah studi tentang distribusi dan faktor-faktor yang menentukan keadaan yang berhubungan dengan kesehatan atau kejadian-kejadian pada kelompok penduduk tertentu (Last, Beagehole et al,1993). Menurut Gordis (2000), epidemiologi merupakan inti dari disiplin ilmu “Public Health”,tetapi juga relevan untuk ilmu kedokteran klinis. Dengan kata lain epidemiology merupakan “the mother science of public health” (Blakley,1990).
Dari beberapa pengertian diatas, ada 3 faktor pokok dalam epidemiologi, yaitu :
a. Frekuensi yaitu besarnya masalah kesehatan yang terjadi di masyarakat.
Dengan mengetahui besarnya masalah, kita bisa mengetahui masalah mana yang harus mendapat penanganan terlebih dahulu.
b. Penyebaran atau distribusi, adalah pengelompokan masalah kesehatan menurut keadaan tertentu. Pengelompokan ini berupa komunitas yang mengalami masalah kesehatan (orang/man), tempat (place) dan waktu (time) terjadinya masalah kesehatan.
c. Determinan atau faktor-faktor yang mempengaruhi.
Determinan adalah faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya masalah kesehatan, baik dalam banyaknya masalah atau frekuensi maupun proses penyebaran masalah kesehatan.

Di dalam penelitian epidemiologi terdapat 2 tahap, yaitu :
a. Epidemiologi deskriptif
Epidemiologi deskriptif digunakan untuk memperoleh jawaban dari pertanyaan-pertanyaan mengenai
- Siapa (who) yang mengalami/menjadi sasaran dari masalah kesehatan.
- Dimana (where) masalah/penyakit itu terjadi.
- Kapan (when) masalah itu terjadi.
Dari 3 faktor yang mempengaruhi epidemiologi diatas, Frekuensi dan Distribusilah yang termasuk dalam kategori Epidemiologi Deskriptif.

b. Epidemiologi analitik
Dalam tahap analisis mencakup hubungan sebab-akibat tentang masalah yang terjadi, didasarkan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi.Faktor pokok epidemiologi yang termasuk unsur dari epidemiologi analitik adalah determinan. Di dalam determinan harus mencakup 3 tahap yaitu merumuskan hipotesa, menguji hipotesa, selanjutnya menarik kesimpulan terhadap hipotesa yang telah dibuat.

Awal mulanya epidemiologi hanya menangai masalah penyakit menular saja. Seiring dengan berjalannya waktu dan berkembangnya teknologi, ruang lingkup epidemiologi meluas, bukan hanya penyakit menular saja yang dipelajari, namun penyakit non menular, seperti penyakit jantung, karsinoma, hipertensi, dll. Bahkan, epidemiologi di era sekarang berkembang luas ke hal-hal yang bukan merupakan penyakit, seperti kecelakaan, fertilitas, mortalitas, menopouse, kenakalan remaja, penggunaan narkotik, kebiasaan merokok, masalah KB, kesehatan lingkungan, Kesehatan Reproduksi, Kesehatan Kerja, Gizi, dan masih banyak lagi masalah yang menyangkut kesehatan.
Sasaran epidemiologi adalah populasi manusia, bukan individu. Ciri-ciri ini yang membedakan epidemiologi dari ilmu kedokteran klinik dan ilmu-ilmu biomedik, yang lebih memusatkan perhatiannya kepada individu, jaringan, atau organ.


B. Sejarah Epidemiologi

Sejarah perkembangan epidemiologi seiring dengan perkembangan ilmu kedokteran ketika Hippocrates (460-377 SM) yang disebut-sebut sebagai Bapak Kedokteran Modern mengemukakan teori yang mengatakan bahwa :
a. Kejadian kontak penyakit dikarenakan kontak dengan jazad hidup.
b. Penyakit berkaitan dengan lingkungan internal dan eksternal
Selanjutnya teori ini dimuat dalam karyanya yang berjudul “On Air, Water and Places”. Pada tahun 1620-1674 John Graunt melakukan pencatatan di Kota London dengan menggunakan tabel hidup (life table) untuk mendeskripsikan mortalitas penduduk dalam bentuk ukuran dasar epidemiologi, yaitu angka absolut, persen dan probabilitas. William Farr (1839) dikenal dengan ”The Founder of Modern Surveillance” mengembangkan sistem pengumpulan data rutin tentang jumlah dan penyebab kematian, dan menggunakan informasi itu untuk perencanaan dan evaluasi program kesehatan masyarakat. Selanjutnya Willian Farr mengemukakan kausa epidemi kolera karena berhubungan dengan udara yang buruk, sehingga dikenal dengan “Teori Miasma”, miasma berarti udara buruk.
Penyelidikan kolera dilanjutkan oleh John Snow (1813-1958), penyelidikan Snow berbeda dengan Farr. John Snow yang merupakan seorang dokter tidak hanya menggunakan pendekatan klinik saja, tetapi menggunakan pendekatan komunitas. Snow melakukan penyelidikan alamiah pada tahun 1854 yang dikenal dengan “Shoe leather epidemiology”. Karena jasanya yang besar dalam bidang epidemiologi, maka John Snow disebut sebagai “Bapak Epidemiologi”

C. Tujuan Epidemiologi

1. Mendeskripsikan distribusi, kecenderungan dan riwayat alamiah penyakit atau keadaan kesehatan populasi
2. Menjelaskan etiologi penyakit
3. Meramalkan kejadian penyakit
4. Mengendalikan distribusi penyakit dan masalah kesehatan

D. Peranan Epidemiologi dalam Pemecahan Masalah Kesehatan di Masyarakat
1. Mengidentifikasi faktor-faktor yang menjadi sebab timbulnya masalah kesehatan pada masyarakat dalam usaha untuk menanggulangi serta upaya pencegahan timbulnya masalah kesehatan
2. Memprioritaskan masalah kesehatan/penyakit yang harus diberantas/diobati terlebih dahulu
3. Mengetahui Riwayat Alamiah Penyakit
Pengetahuan tentang perkembangan alamiah penyakit penting dalam menggambarkan perjalanan suatu penyakit. Dengan pengetahuan tersebut dapat dilakukan berbagai upaya untuk menghentikan perjalanan penyakit sedemikian rupa sehingga penyakit tidak sampai berkelanjutan. Manfaat/peranan Epidemiologi dalam menerangkan perkembangan alamiah suatu penyakit adalah melalui pemanfaatan keterangan tentang frekwensi dan penyebaran penyakit terutama penyebaran penyakit menurut waktu. Dengan diketahuinya waktu muncul dan berakhirnya suatu penyakit, maka dapatlah diperkirakan perkembangan penyakit tersebut
4. Untuk mencari efektifitas suatu tindakan pencegahan dan pengobatan
5. Mengidentifikasi kelompok penduduk risiko tinggi dari suatu penyakit, sehingga tindakan dapat segera diprioritaskan
6. Mengevaluasi efektifitas program-program kesehatan dan upaya pelayanan dalam rangka peningkatan kesehatan penduduk
7. Memperkirakan terjadinya wabah penyakit
8. Menerangkan suatu keadaan masalah kesehatan
Perpaduan ciri yang menghasilkan keadaan masalah kesehatan, yaitu epidemi, pandemik, endemik, dan sporadik.

Sumber :
1. Azwar, Azrul.1999. Pengantar Epidemiologi. Jakarta: Binarupa Aksara. es
2. MN, Bustan.2002. Pengantar Epidemiologi. Jakarta: Rineka Cipta.
3. B, Budioro.2001. Pengantar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Semarang: Badan penerbit Universitas Diponegoro.
4. Friedman, Gary D. (2004). Primer of Epidemiologi. 5th ed. Singapore: Mc. Graw Hill
5. ikm2-epidemiologi1.pdf
6. Materi kuliah FKM Undip.


Nama : Ekki Indri R.U
Nim : E2A009079
MAHASISWA FKM UNDIP